Page 40 - 02_BIN_SMA_10_GANJIL_IKM
P. 40
Mengapa?
3. Apa yang akan terjadi jika si Miskin tidak jujur menyampaikan kepada istrinya bahwa
mempelam yang didapatnya kali pertama dari pasar? Apakah hal tersebut akan sangat
memengaruhi cerita?
4. Apakah kalian setuju dengan sikap istri si Miskin yang menolak mempelam yang
dibawa suaminya dari pasar? Mengapa?
Jika kalian menjadi si Miskin apakah kalian akan melakukan hal yang sama saat
diminta istrinya meminta mempelam Raja? Jelaskan alasan jawabanmu!
TARIAN PENA
Virginia C.C. Pomantow
Di bawah terik matahari aku menyusuri jalan kampung yang tampak tak
berpenghuni. Samar-samar nyanyian tonggeret ter- dengar di sampingku. Bagai
melodi yang tak tertata, sekali lagi aku mendengarnya. Sesampai dalam “istana
tuaku”, terlihat seorang perempuan tua yang menyambutku dengan hangat. Nasi yang
berselimut lauk-pauk tersedia dengan manis di meja makan. Setelah itu, aku masuk
ke dalam ruang yang mengetahui setiap gerak-gerikku. Aku mulai memegang pena
dan menggoreskannya di atas lembaran putih. Kutuang semua rasa yang bergejolak
dalam hatiku.
Tiba-tiba langit mulai gelap. Kuterlelap dalam buaian dingin yang kalap, bermimpi
seorang pangeran gagah datang dengan kereta emas menjemputku dan merangkulku.
Pagi cerah menanti sosok pelajar dari ibu pertiwi. Aku berdiri di lantai dua sekolah
menanti kawan yang menyapa dengan senyuman. Kutatap pohon dan tanaman yang
asri dan tersusun pula dengan rapi. Angin menyambar wajahku.
“Fuuuuuuuuuu....”
Seketika aku merasa tersengat dan memiliki semangat yang tak kunjung pudar. Di
halaman sekolah para siswa bermain basket dengan lihai dan sebagian siswi
berbincang-bincang dengan santai. Aku senang sekali menuangkan semua yang kulihat
dalam sebuah tulisan, baik itu puisi maupun diary, hanya dengan kata yang mudah
dipahami dan makna yang tersirat dengan sentuhan rasa kasih. Sungguh, aku tak ingin
orang banyak mengetahui apa yang tersirat dalam catatanku.
Waktu berjalan begitu cepat menyongsong matahari yang mengingini senja. Besi
kuning mulai menjerit. “Teng, teng, teng.” Waktunya pulang ke “istanaku”.
Seperti biasa, setibaku di istana tuaku, perempuan tua menyambutku dengan
hangat. Terlihat nasi yang berselendangkan lauk-pauk, membekaskan lezat pada
lidahku. Tak tahu mengapa, saat itu aku mengucapkan terima kasih pada perempuan
tua itu. Aku pun masuk ke dalam ruang yang mengetahui gerak-gerikku dengan
mengajak pena menari di atas lembaran putih. Kali ini, terpikirkan olehku sosok
perempuan tua yang selalu terbayang di benakku.
Susunan kalimat pun sudah selesai.
“Aryo!” teriakku kepada lelaki yang belum pernah kudapati.
Ketika aku membuka mata, Aryo sudah berada di depanku. Seketika pipiku mulai
memerah dan bibirku menjadi sedikit kaku.
“Apakah ini mimpi. Ini masih terlalu dini. Lagipula, aku masih terlalu muda!”
teriakku dalam hati.
270 BAHASA INDONESIA SMA X GANJIL

