Page 39 - 02_BIN_SMA_10_GANJIL_IKM
P. 39
Maka sahut si Miskin, “Ada juga tuanku.” Lalu sujud kepalanya lalu diletakkannya
ke tanah, “Ampun Tuanku, beribu-ribu ampun tuanku. Jikalau ada karenanya Syah Alam
akan patuhlah hamba orang yang hina ini hendaklah memohonkan buah mempelam Syah
Alam yang sudah gugur ke bumi itu barangkali Tuanku.”
Maka titah baginda, “Hendak engkau buatkan apa buah mempelam itu?”
Maka sembah si Miskin, “Hendak dimakan, Tuanku.”
Maka titah baginda, “Ambilkanlah barang setangkai berikan kepada si Miskin ini”.
Maka diambilkan oranglah diberikan kepada si Miskin itu. Maka diambillah oleh si
Miskin itu seraya menyembah kepada baginda itu. Lalu keluar ia berjalan kembali.
Setelah itu maka baginda pun berangkatlah masuk ke dalam istananya. Maka segala
raja-raja dan menteri hulubalang rakyat sekalian itu pun masing-masing pulang ke
rumahnya. Maka si Miskin pun sampailah kepada tempatnya. Setelah dilihat oleh
istrinya akan suaminya datang itu membawa buah mempelam setangkai. Maka ia
tertawa-tawa. Seraya disambutnya lalu dimakannya.
Maka adalah antaranya tiga bulan lamanya. Maka ia pun me- nangis pula hendak
makan nangka yang di dalam taman raja itu juga. Demikian juga si Miskin mendapat
nangka di kebun raja itu untuk istrinya yang mengidam itu
Adapun selama istrinya si Miskin hamil maka banyaklah makan-makanan dan kain
baju dan beras padi dan segala perkakas- perkakas itu diberi orang kepadanya.
Dan pada ketika yang baik dan saat yang sempurna, pada malam empat belas hari
bulan maka bulan itu pun sedang terang- tumerang maka pada ketika itu istri si Miskin
itu pun beranaklah seorang anak lelaki terlalu amat baik parasnya dan elok rupanya.
Anak itu dinamakan Marakarmah, artinya anak di dalam kesukaran.
Hatta maka dengan takdir Allah Swt. menganugerahi kepada hambanya. Maka si
Miskin pun menggalilah tanah hendak berbuat tempatnya tiga beranak itu. Maka
digalinyalah tanah itu hendak mendirikan tiang teratak itu. Maka tergalilah kepada
sebuah telaju yang besar berisi emas terlalu banyak. Maka istrinya pun datanglah
melihat akan emas itu. Seraya berkata kepada suaminya, “Adapun akan emas ini sampai
kepada anak cucu kita sekalipun tiada habis dibuat belanja.”
Ia menjadi kaya dan menempah barang-barang keperluannya- kendi, lampit, utar-
utar, pelana kuda, keris, dan sebagainya. Sekembalinya dari menempah barang-barang
itu dia mandi berlimau, menimang anaknya dan berseru, “Jikalau sungguh- sungguh
anak dewa-dewa hendak menerangkan muka ayahanda ini, jadiIah negeri di dalam
hutan ini sebuah negeri yang lengkap dengan kota, parit dan istananya serta dengan
menteri, hulubalang, rakyat sekalian dan segala raja-raja di bawah baginda, betapa adat
segala raja-raja yang besar!”
Kabul permintaan itu dan si Miskin menjadi raja bertukar nama Maharaja Indera
Angkasa dan istrinya bertukar nama Ratna Dewi dan negeri itu dinamakan Puspa Sari.
Jawablah pertanyaan ini.
1. Apakah setiap tokoh memiliki porsi yang sama dalam cerita untuk digambarkan
karakternya? Jika tidak, tokoh mana yang mendapatkan porsi lebih banyak? Jelaskan
alasanmu!
2. Adakah keterkaitan antara karakter tokoh dan cara mereka menyele- saikan masalah?
BAHASA INDONESIA SMA X GANJIL 269

