Page 42 - 02_BIN_SMA_10_GANJIL_IKM
P. 42
Putriku,” kata ibuku sambil mencium keningku.
“Selamat malam juga, Ibu,” jawabku sambil menarik selimut mungil dan terlelap
pada malam itu dengan embusan angin yang menyapa dengan dingin
Meskipun hikayat dan cerpen sama-sama merupakan cerita naratif berupa fiksi, ada
perbedaan antara keduanya. Hal tersebut terjadi karena perbedaan kondisi sosial dan
budaya pada saat cerita tersebut dibuat. Hikayat yang dibuat pada masa kerajaan tidak
dapat lepas dari nuansa istana, baik pada tokohnya maupun setting cerita.
Tokoh pada hikayat cenderung berlatar belakang keluarga kerajaan atau orang-orang
di sekitarnya. Keluarga kerajaan dikenal dengan orangorang yang sakti hingga sering
diceritakan dapat melakukan hal-hal yang tidak wajar. Bahkan, para tokoh tidak hanya
diambil dari kerajaan yang ada di bumi, tetapi juga kerajaan kayangan. Perbedaan kasta
di setiap golongan masyarakat muncul sangat jelas pada cerita. Hal ini sangat berbeda
dengan cerpen yang lebih variatif mengambil tokoh dalam cerita.
Hal tersebut sangat berpengaruh pada konflik yang muncul dalam cerita. Konflik
yang biasa muncul tidak lepas dari perselisihan antarkerajaan dan golongan. Penyelesaian
konflik pun tidak jauh dari peperangan dan penggunaan kekuatan ajaib yang berakhir
bahagia. Pada cerpen karena karakter dan latar belakang yang begitu beragam
mengakibatkan konflik dan cara penyelesaiannya pun beragam.
Sebagai cerita yang lebih panjang dibandingkan cerpen, hikayat memiliki alur lebih
kompleks. Hikayat memiliki alur berbingkai yang pada sebuah ceritanya berisi cerita lain.
Pada Hikayat Bayan Bijaksana, di samping menceritakan percakapan antara Bayan dan
Istri Zainab, terdapat pula cerita lain. Contohnya cerita tentang anak cerpelai, seperti yang
terdapat pada kutipan hikayat berikut.
Cerita bayan itu ialah mengenai seekor bayan yang mempunyai tiga ekor anak yang
masih kecil. Ibu bayan itu menasihatkan anak-anaknya supaya jangan berkawan dengan
anak cerpelai yang tinggal berhampiran. Ibu bayan telah bercerita kepada anak-anaknya
tentang seekor anak kera yang bersahabat dengan seorang anak saudagar.
Alur yang digunakan pada hikayat adalah alur maju. Berbeda dengan cerpen yang
memiliki alur lebih variatif.
Sudut pandang penceritaan pun berbeda antara hikayat dan cerpen. Hikayat
menggunakan sudut pandang orang ketiga, orang yang men- ceritakan. Adapun cerpen
menggunakan sudut pandang yang beragam.
Nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra, termasuk hikayat, terdiri atas nilai
pendidikan, religius, moral, dan nilai sosial.
1. Nilai pendidikan adalah nilai yang berkaitan dengan semangat atau kemauan
seseorang untuk terus belajar secara sadar.
2. Nilai religius merupakan nilai yang mengikat manusia dengan Pencipta alam dan
seisinya.
3. Nilai moral merupakan suatu penggambaran tentang nilai-nilai kebenaran, kejujuran,
272 BAHASA INDONESIA SMA X GANJIL

