Page 41 - 02_BIN_SMA_10_GANJIL_IKM
P. 41
Air dingin pun jatuh membasahi wajahku. Perlahan aku membuka mata dan
mendapati ibuku memegang gayung air dari kamar mandi.
“Ibu, mengapa Ibu menyiram air ke wajahku?” tanyaku.
“Kamu tidur seperti kerbau,” canda ibu. Keesokan harinya, pagi-pagi buta,
perempuan tua menyodorkan susu yang berbalut sediri kopi. Terasa lengkap akhir
pekan ini. Kuintip dia dari balik lembaran kain yang tergantung di bawah ventilasi,
dia di sana. Perempuan tua itu duduk di sebuah kayu berlapis kapuk yang membatu.
Aku sedikit tersenyum manis.
"Hemmm....” Wajahnya tampak di bawah naungan yang diharapkan selalu
terjadi dan berharap waktu terus begini.
“Ibu telah meninggal” kata seseorang yang menyapaku dengan tepukan di bahu
kanan. Aku terdiam dan tak dapat berbuat apa pun, selain menangis bak orang gila.
“Aaah.... Hee.... Tidak! Tidak! Ibuku tidak akan meninggalkan- ku,” jeritan
keras yang tak pernah kuteriakkan sepanjang hidupku.
Seketika aku tersadar dari lamunku. ‘Uhh, untung saja itu hanya sebuah
khayalan baru yang terlintas di kepalaku,’ kesalku.
Pada sore hari menjelang bulan naik perlahan menggantikan surya, perempuan
itu pulang dengan letihnya. Wajah lesu, tangan yang lemas, dan kaki yang perlahan
membeku. Kulihat dari seberang utara ruang tamu. Aku melangkahkan kaki dengan
pasti dan memeluk tubuh perempuan tua itu, walau peluhnya pun menempel di
bajuku.
“Bu, maafkan aku. Aku tidak akan membuatmu kesal dan capek,” tangisku yang
tersedu dalam sesal.
“Eh, ada apa, sih, kamu ini tiba-tiba memeluk Ibu. Minta maaf pula. Tumben-
tumbenan,” kata ibu dengan bingung.
Kemudian, aku pergi ke ruang yang mengetahui gerak- gerikku. Kuhanyut
dalam renungan pada malam sepi ini, merasakan dua hati yang saling melukai, antara
sesal dan sedih. Dua rasa yang sejenis, tetapi memiliki arti masing-masing yang
sangat mendalam. Sekali lagi aku menorehkan pena di hadapan lembaran kertas
putih. Lilin kecil yang memercikkan api jingga menemaniku saat itu. Bersama itu,
aku berdiam diri sambil menulis sebuah kisahku hari itu. Perlahan aku memejamkan
mata dan bunyi rekaman lama terdengar.
Aku terbangun dan keluar dari ruang yang mengetahui gerak- gerikku. Aku terkejut
melihat banyak orang mengerumuni kamar perempuan tua itu. Kupandangi arah
kamar perempuan tua itu. Lututku terjatuh perlaham menghampiri lantai. Aku tak
dapat berbicara, tanganku dingin bak es yang keluar dari freezer.
“Ibu!” teriakku sekuat tenaga sambil meratapi malangnya nasibku. Perempuan
tua tak dapat mengatakan apa pun, hanya terdiam, membeku, dan tergeletak, tinggal
menunggu untuk dikebumikan. Aku hanya menangis, menangis tak karuan.
Sekarang hari-hariku dipenuhi sesal yang tak berarti. Berangkat ke sekolah
dengan seragam kumuh, tidak pula membuat sarapan karena malas dan resah, serta
serintih harapan tak dapat kuadu. Masa tersulit pun kualami. Merajut asa tanpa sosok
ibu di sisiku. Rindu tak terbalaskan. Bak pungguk merindukan bulan.
“Ibu, aku rindu. Aku ingin Ibu masih bersamaku. Aku tak ingin semua ini terjadi.
Aku lelah dengan semua kejadian ini!” jeritku kepada perempuan tua itu.
“Tamat. Sekarang sudah larut malam. Sebaiknya cepat tidur. Selamat malam,
BAHASA INDONESIA SMA X GANJIL 271

