Page 38 - 02_BIN_SMA_10_GANJIL_IKM
P. 38
B. Membandingkan Karakterisasi dan Plot pada Hikayat dan Cerpen
Hikayat si Miskin
Asalnya raja kayangan dan jadi demikian karena disumpahi oleh Batara Indera. Terlantar
di negeri Antah Berantah dan keduanya sangat dibenci orang. Setiap kali mereka
mengemis di pasar dan kampung mereka dipukuli dan diusir hingga ke hutan. Oleh yang
demikian, tinggallah dua suami-istri itu di hutan memakan batang kayu dan buah-buahan.
Hatta beberapa lamanya maka istri si Miskin itu pun hamillah tiga bulan lamanya.
Maka istrinya menangis hendak makan buah mempelam yang ada di dalam taman raja
itu. Maka suaminya itu pun terketukkan hatinya tatkala ia di Keinderaan menjadi raja
tiada ia mau beranak. Maka sekarang telah mudhorot. Maka baharulah hendak beranak
seraya berkata kepada istrinya, “Ayo, hai Adinda. Tuan hendak membunuh kakandalah
rupanya ini. Tiadakah tuan tahu akan hal kita yang sudah lalu itu? Jangankan hendak
meminta barang suatu, hampir kepada kampung orang tiada boleh.”
Setelah didengar oleh istrinya kata suaminya demikian itu maka makinlah sangat ia
menangis. Maka kata suaminya, “Diamlah tuan, jangan menangis! Berilah kakanda pergi
mencaharikan tuan buah mempelam itu, jikalau dapat oleh kakanda akan buah mempelam
itu kakanda berikan pada tuan.”
Maka istrinya itu pun diamlah. Maka suaminya itu pun pergilah ke pasar mencahari
buah mempelam itu. Setelah sampai di orang berjualan buah mempelam maka si Miskin
itu pun berhentilah di sana. Hendak pun dimintanya takut ia akan dipalu orang. Maka kata
orang yang berjualan buah mempelam, “Hai miskin. Apa kehendakmu?”
Maka sahut si Miskin, “Jikalau ada belas dan kasihan serta rahim tuan akan hamba
orang miskin hamba ini minta diberikan yang sudah terbuang itu. Hamba hendak
memohonkan buah mempelam tuan yang sudah busuk itu barang sebiji sahaja tuan.”
Maka terlalu belas hati sekalian orang pasar itu yang mendengar kata si Miskin.
Seperti hancurlah rasa hatinya. Maka ada yang memberi buah mempelam, ada yang
memberikan nasi, ada yang memberikan kain baju, ada yang memberikan buah- buahan.
Maka si Miskin itu pun heranlah akan dirinya oleh sebab diberi orang pasar itu berbagai-
bagai jenis pemberian. Adapun akan dahulunya jangankan diberinya barang suatu hampir
pun tiada boleh. Habislah dilemparnya dengan kayu dan batu. Setelah sudah ia berpikir
dalam hatinya demikian itu maka ia pun kembalilah ke dalam hutan mendapatkan istrinya.
Maka katanya, “Inilah Tuan, buah mempelam dan segala buah-buahan dan makan-
makanan dan kain baju. Itupun di- injakkannyalah istrinya seraya menceriterakan hal
ihwalnya tatkala ia di pasar itu. Maka istrinya pun menangis tiada mau makan jikalau
bukan buah mempelam yang di dalam taman raja itu. “Biarlah aku mati sekali.”
Maka terlalulah sebal hati suaminya itu melihatkan akan ke- lakuan istrinya itu
seperti orang yang hendak mati. Rupanya tiadalah berdaya lagi. Maka suaminya itu pun
pergilah menghadap Maharaja Indera Dewa itu. Maka baginda itu pun sedang ramai
dihadap oleh segala raja-raja. Maka si Miskin datanglah. Lalu masuk ke dalam sekali.
Maka titah baginda, “Hai Miskin, apa kehendakmu?”
268 BAHASA INDONESIA SMA X GANJIL

