Page 35 - 02_BIN_SMA_10_GANJIL_IKM
P. 35

BAB 3 MENYUSUN NILAI DALAM LINTAS ZAMAN

                      A.  Mengidentifikasi Ide dan Makna Kata dalam Hikayat







                      B.  Kata  hikayat  diturunkan  dari  kata  bahasa Arab  “haka”  yang  mempunyai  arti:
                         menceritakan, menirukan, mewartakan, me- nyerupai, berkata, meneruskan, dan
                         melukiskan (Baried dkk, 1985, 9).
                      C.  Sastra hikayat ialah sastra lama yang ditulis dalam bahasa Melayu. Sebagian besar
                         kandungan ceritanya berkisar dalam ke- hidupan istana. Unsur rekaan merupakan
                         ciri menonjol dan pada lazimnya mencakup bentuk prosa yang panjang (Baried,
                         1985, 9).
                      D.  Hikayat  ialah  karya  sastra  lama  Melayu  berbentuk  prosa  yang  berisi  cerita,
                         undang-undang, dan silsilah bersifat rekaan, keagamaan, historis, biografis, atau
                         gabungan sifat- sifat itu. Hikayat dibaca untuk pelipur lara, pembangkit semangat
                         juang,        atau       sekadar        untuk         meramaikan         pesta
                         (https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/Hikayat).









                                           Hikayat Sa-ijaan dan Ikan Todak

                    Menurut sahibul hikayat, sebermula ada seorang Datu yang sakti mandraguna sedang
                    bertapa di tengah laut. Namanya Datu Mabrur. Ia bertapa di antara Selat Laut dan Selat
                    Makassar.
                        Siang-malam ia bersamadi di batu karang, di antara percikan buih, debur ombak,
                    angin,  gelombang  dan  badai  topan.  Ia  memohon  kepada  Sang  Pencipta  agar  diberi
                    sebuah  pulau.  Pulau  itu  akan  menjadi  tempat  bermukim  bagi  anak-cucu  dan
                    keturunannya, kelak.
                        Hatta, ketika laut tenang, seekor ikan besar tiba-tiba muncul dari permukaan laut
                    dan  terbang  menyerangnya.  Tanpa  beringsut  dari  tempat  duduk  maupun  membuka
                    mata,Datu Mabrur menepis serangan mendadak itu.
                        Ikan itu terpelanting dan jatuh di karang. Setelah jatuh ke air, ikan itu menyerang
                    lagi.  Demikian  berulang-ulang.  Di  sekeliling  karang,  ribuan  ikan  lain  mengepung,
                    memperlihatkan gigi mereka yang panjang dan tajam, seakan prajurit siap tempur. Pada
                    serangannya  yang  terakhir,  ikan  itu  terpelanting  jatuh  persis  saat  Datu  Mabrur
                    membuka matanya.
                        “Hai, ikan! Apa maksudmu mengganggu samadiku? Ikan apa kamu?”
                          “Aku ikan todak, Raja Ikan Todak yang menguasai perairan ini. Samadimu
                    membuat lautan bergelora. Kami terusik, dan aku memutuskan untuk menyerangmu.
                    Tapi, engkau memang sakti, Datu Mabrur. Aku takluk,” katanya, megap-megap.
                    Matanya berkedip-kedip menahan sakit. Tubuhnya terjepit di sela-sela karang tajam.


                                                              BAHASA INDONESIA SMA X GANJIL             265
   30   31   32   33   34   35   36   37   38   39   40