Page 154 - 01_PAI_SMA_10 GENAP
P. 154
sehingga setiap hal yang terjadi di Tuban saat itu dapat diketahui olehnya. Kondisi sosial
masyarakat saat itu cukup memprihatinkan. Banyak pejabat yang memungut upeti dari
rakyat tetapi tidak disetorkan ke kerajaan. Mereka melakukan tindakan korupsi
sedangkan upeti yang harus dibayarkan oleh rakyat jumlahnya sangat tinggi.
Berangkat dari kegelisahannya menyikapi situasi tersebut, maka Raden Said pun
memberikan nasihat keras kepada para pejabat pemerintah yang korup agar
memberikan sebagian besar hartanya kepada orang-orang miskin. Hal ini tentu saja
menimbulkan pro dan kontra dikalangan pejabat pemerintah. Bagi pejabat yang korup
tentu ide ini bertolak belakang dengan nafsu duniawi mereka. Bagi rakyat miskin,
tentunya Raden Said dianggap sebagai sosok pahlawan, namun disisi lain tindakan ini
memicu kegaduhan didalam istana. Dan perilaku inipun tercium oleh ayahandanya.
Kemudian ia di usir oleh ayah kandungnya sendiri karena dianggap telah meresahkan
masyarakat dan orangorang dalam lingkaran pemerintahan kerajaan.
Setelah diusir dan berkelana seorang diri itulah, Raden Said bertemu dengan Sunan
Bonang, yang kemudian menjadi gurunya. Setelah menyerap ilmu dari Sunan Bonang,
Raden Said lantas berguru kepada Sunan Gunung Jati di Cirebon. Ia pun berguru
kepada para wali yang lain, sehingga meskipun ia adalah wali yang termuda, manun
merupakan murid yang paling pandai.
Raden Said kemudian menjadi salah satu dari sembilan wali dengan sebutan Sunan
Kalijaga dan bertugas untuk menyebarkan Islam di tanah Jawa. Sebagai seorang wali,
Sunan Kalijaga telah berubah menjadi seseorang yang memiliki tingkah laku yang baik
sesuai dengan ajaran Islam. Ia menyebarkan ajaran Islam dengan berdakwah baik
melalui kegiatan pemerintahan, keagamaan, maupun kesenian. Sunan Kalijaga menjadi
salah satu wali yang bersama-samamembangun Masjid Agung Demak bersama
beberapa wali yang lain.
Sebagaimana halnya pola dakwah yang dilakukan oleh para wali sebelumnya, Sunan
Kalijaga mengenalkan Islam kepada masyarakat Jawa dengan pelanpelan. Hal tersebut
dilakukan agar masyarakat tidak kaget dengan perubahan kebudayaan Islam yang
dibawa olehnya. Ia berusaha untuk tidak menyinggung atau langsung secara frontal
menggantikan keyakinan yang mereka anut dengan ajaran Islam. Tidak jarang bahkan
Sunan Kalijaga memodifiasi upacaraupacara adat, tata cara atau budaya yang selama
ini berkembang dengan corak Hindu-Budha dengan menyisipkan nilai-nilai Islam
kedalamnya.
Dengan strategi ini Sunan Kalijaga tidak langsung menghilangkan unsurunsur dan
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SMA X GENAP 151

