Page 157 - 01_PAI_SMA_10 GENAP
P. 157
dari pusat kota. Ia sering menyendiri dan menjadikan tempat-tempat yang tenang untuk
menyebarkan agama Islam.
Selain di wilayah-wilayah pelosok, Sunan Muria juga mengajarkan Islam kepada para
pedagang, nelayan, pelaut dan rakyat jelata. Ia dikenang sebagai seorang wali yang
memiliki tubuh yang kuat, hal tersebut dikarenakan tempat tinggalnya yang berada di
puncak gunung.
Sunan Muria hidup pada masa kasultanan Demak yaitu kerajaan Islam pertama di
Pulau Jawa. Kerajaan ini berkembang menjadi kerajaan besar di bawah kepemimpinan
sultan pertama yaitu Raden Patah (1481-1518 M). Bahkan kekuasaan kerajaan Demak
meluas hingga ke Kalimantan Selatan, Palembang dan Jambi. Bahkan pada tahun 1512-
1513 di bawah pimpinan Adipati Unus puteranya, Demak berhasil membebaskan
Malaka dari kekuasaan Portugis. Karena pernah memimpin pasukan untuk pembebasan
Malaka itulah Adipati Unus mendapat julukan Pangeran Sabrang Lor (pangeran yang
pernah menyeberang ke utara).
Sunan Muria memiliki kontribusi yang sangat besar dalam penyebaran Islam di tanah
Jawa. Metode dakwah yang dilakukan pun tidak jauh berbeda dengan yang ditempuh
oleh Sunan Kalijaga, yaitu tetap mempertahankan kesenian gamelan dan wayang kulit
sebagai sarana dakwah. Ia berdakwah kepada rakyat kalangan bawah di daerah Colo,
namun ia tetap bertempat tinggal di Gunung Muria karena ia merasa damai dan nyaman
serta dapat bergaul dengan semua masyarakat seraya mengajarkan ilmu bercocok
tanam, berdagang dan melaut.
Sunan Muria juga menciptakan tembang Sinom dan Kinanti sebagai media dakwah.
Dengan syair pada tembang-tembang tersebut, ia mengajak masyarakat untuk
mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari hari. Ia belajar tentang gaya dan
pendekatan kepada masyarakat dengan melakukan pembenahan yang sekiranya harus
disesuaikan dengan perkembangan kehidupan di masyarakat.
Salah satu keberhasilan dakwah Sunan Muria sebagaimana para wali lainnya adalah
kemampuannya memahami kondisi sosial masyarakat. Tradisi lama yang sebelumnya
bercorak Hindu-Budha yang disesuaikan dengan ajaran Islam, kemudian tetap
dilestarikan dan menjadi kekayaan budaya Nusantara dan kearifan lokal di Indonesia
saat ini, sehingga tidak tercerabut dan punah begitu saja.
Berikut ini catatan sejarah tentang alasan mengapa Sunan Muria lebih senang
berdakwah kepada masyarakat lapisan bawah, adalah karena ia mengikuti jejak
ayahandanya Sunan Kalijaga. Dalam hal ini, para sejarawan menggolongkan pola
154 PENDIDIKANAGAMA ISLAM SMA X GENAP

