Page 66 - 01_PAI_SMA_10 GENAP
P. 66
berhasil saya cabut” lapornya.
“Luar biasa sekali anakku. Tentu tidak mudah bagimu untuk melakukan apa yang
aku sarankan. Dan sekarang, bolehkan aku bertamu ke rumahmu dan melihat paku-
paku dan balok kayu itu?” Ia menjawab dengan cukup penasaran “baiklah guru, tapi
kalau boleh tahu, untuk apa guru melihat paku-paku dan balok kayu itu?” “Nanti kamu
juga akan tahu” jawab sang guru.
Kemudian guru dan murid itu pun beriringan menuju ke rumah sang murid dan
kemudian melihat balok kayu yang sudah bersih dari tancapan paku, tetapi balok kayu
itu terlihat buruk karena bekas-bekas lubang paku yang dicabut. Lalu sang guru berkata
“anakku, engkau sudah melakukan hal yang luar biasa dengan menahan amarahmu.
Tapi engkau juga harus tahu, bahwa ada akibat yang engkau timbulkan dari amarahmu
selama ini. Ketika engkau marah dan meluapkan emosimu dengan mengeluarkan kata-
kata yang menyakiti hati orang lain, maka hal itu seperti kiasan paku yang menancap di
balok kayu ini. Tidak ada bedanya kemarahan yang disengaja, maupun kemarahan yang
spontan, semuanya sama-sama berakibat buruk bagi orang lain” kata sang guru dengan
penuh bijaksana.
“Anakku, tidak cukup bagimu hanya menyesali, meminta maaf dan memohon
ampunan kepada Allah Swt. atas apa yang pernah engkau perbuat. Permintaan maafmu
kepada orang yang pernah engkau sakiti, ibarat engkau mencabut paku-paku itu dari
balok kayu. Pakunya bisa dicabut, tetapi bekas lubang pakunya tidak bisa hilang.
Demikian juga dengan sakit hati, barangkali orang lain bisa memaafkan, tetapi belum
tentu ia bisa melupakan apa yang pernah kita lakukan kepadanya. Oleh karena itu,
janganlah engkau meremehkan kata-kata buruk, emosi dan kemarahanmu kepada
orang lain, karena luka yang disebabkan oleh kata-kata, sama sakitnya dengan luka fisik
yang kita alami” pungkas sang guru. Murid itu pun menunduk dan menyadari sifat
temperamental yang ia miliki selama ini, ternyata berdampak buruk bagi orang lain dan
merugikan dirinya sendiri, dan ia pun berjanji untuk menjadi orang yang lebih baik
dengan mengendalikan amarah dan emosinya dalam kehidupan berikutnya.
(Dinarasikan kembali dari rumahinspirasi.com)
E. Wawasan Keislaman
Setiap manusia terlahir dengan fitrah dan sifat masing-masing. Ada yang terlahir
dengan sifat yang tenang, santun, mudah beradaptasi dan ramah kepada setiap orang.
Ada juga yang memiliki sifat bawaan pemurung, pendiam, mudah marah, mudah
tersinggung dan lain sebagainya. Di sekitar kita, orang yang mudah tersinggung dan
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SMA X GENAP 63

