Page 65 - 01_PAI_SMA_10 GENAP
P. 65
KISAH PAKU DAN SEBATANG BALOK KAYU
Alkisah, tersebutlah seorang murid yang memiliki sifat temperamental, mudah
marah dan kesulitan mengendalikan dirinya. Dia selalu mengalami kesulitan untuk
mengontrol emosinya, bahkan selalu mudah marah dan berkata kasar hanya untuk
kesalahan-kesalahan kecil orang lain yang membuatnya tersinggung. Hingga pada
suatu hari ia dipanggil oleh gurunya. Sang guru merasa berkewajiban untuk menasehati
dan menjadikan murid ini lebih baik akhlaknya, baik terhadap dirinya sendiri maupun
terhadap orang lain.
Oleh sang guru, ia diminta untuk menyiapkan sebatang balok kayu, palu dan paku.
Dan dengan pendekatan serta sentuhan hati yang tulus, guru itu pun meminta
kepadanya, agar setiap kali ia marah, ia harus menancapkan satu buah paku ke balok
kayu dengan menggunakan palu yang sudah disiapkan. Berapa kali pun marah, ia harus
melakukan hal tersebut dengan paku-paku yang baru. Ia pun menerima nasihat dari
gurunya dan bersedia melakukannya.
Keesokan harinya, ia kembali dipanggil oleh sang guru di sekolah, dan ditanya, “dari
kemarin sampai pagi ini sudah berapa buah paku yang engkau tancapkan di atas balok
kayu itu?” Ia menjawab, “dua puluh, guru” jawabnya sambil menunduk malu. Dalam hati
ia menyadari, ternyata hampir setiap satu jam ia marah kepada orang lain. Sang guru
pun tidak berkomentar apa-apa, dan memintanya untuk kembali lagi minggu depan serta
berpesan untuk terus melanjutkan kegiatan itu.
Satu minggu berlalu dan saatnya sang guru memanggilnya kembali. Dengan wajah
berseri-seri, ia menghadap kepada gurunya dan berkata “terima kasih guru, karena
nasihat yang guru berikan, yang tadinya satu hari saya menancapkan 20 buah paku,
pelan-pelan mulai berkurang, dan dari kemarin hingga pagi ini saya sama sekali tidak
menancapkan paku lagi”. Dan sang guru pun menjawab “bagus sekali nak. Kalau begitu,
tugasmu selanjutnya adalah, setiap kali engkau berhasil menahan amarahmu, maka
cabutlah satu paku yang engkau tancapkan sebelumnya. Setiap hari seperti itu, nanti
engkau boleh kembali lagi setelah engkau berhasil mencabut semua paku di balok kayu
itu”.
Hari demi hari berlalu, berganti minggu dan beberapa bulan kemudian murid itu pun
kembali menghadap gurunya dengan wajah yang berseri-seri tetapi penuh dengan rasa
penasaran. “Guru, saya telah mencabut semua paku seperti yang guru nasihatkan,
setiap kali saya bisa mengendalikan amarah saya, dan saat ini semua paku sudah
62 PENDIDIKANAGAMA ISLAM SMA X GENAP

