Page 17 - 02_PKN_7_SMP_GANJIL_IKM
P. 17
Di Sumatra terjadi perlawanan oleh Sultan Iskandar Muda, Sultan
Badaruddin, Si Singamaraja, Imam Bonjol dalam Perang Paderi (1803-
1837) dan Cut Nya’ Dhien dalam Perang Aceh (1873-1904). Di Jawa terjadi
Perang Diponegoro (1825-1830). Pattimura di Maluku, Jelantik di Bali, juga
Pangeran Antasari di Kalimantan juga mengangkat senjata.
Sedangkan perang laut besar-besaran dilakukan Sultan Babullah
di perairan Maluku dan Papua, Hang Tuah di Selat Malaka, juga Sultan
Hasanuddin di Laut Sulawesi dan Laut Jawa. Dengan nilai ketuhanan yang
kuat, para pahlawan pun berjuang untuk menegakkan nilai kemanusiaan dan
nilai persatuan.
Gambar 3 Diponegoro, Cut Nyak Dhien dan Pattimura. Para Pembela Nilai Pancasila
4. Masa Kebangkitan Nasional
Memasuki abad ke-20, upaya melawan penjajah tidak lagi dengan perang
melainkan lewat gerakan politik. Budi Utomo yang diprakarsai Wahidin
Sudirohusodo berdiri pada tanggal 20 Mei 1908. Disusul oleh Sarekat Islam
pimpinan Cokroaminoto, lalu Muhammadiyah pimpinan K.H. Ahmad Dahlan
dan Nahdlatul Ulama pimpinan K.H. Hasyim Asy’ari.
Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo, dan Ki Hajar Dewantara muda
yang mendirikan Indische Partij diasingkan ke Belanda. Pulang ke Tanah
Air, Dewantara mendirikan Taman Siswa. Abdul Muis, Marah Rusli dan para
penulis Balai Pustaka berjuang melalui karya sastra, menyadarkan
masyarakat agar terus berjuang untuk merdeka.
Puncaknya adalah adanya Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928,
saat para pemuda bersumpah untuk “bertumpah darah, berbangsa, dan
berbahasa yang satu, yakni Indonesia.” Setelah Sumpah Pemuda, nama
PKN SMP VII GANJIL 59

