Page 48 - 01_PAI_SMA_10 GENAP
P. 48
mengalahkan murka-Ku”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Ketika seseorang memiliki sifat raja’ maka ia akan bersemangat untuk menggapai
rahmat Allah Swt. karena Dia memiliki sifat Maha Pengampun, Maha Pengasih dan
Penyayang. Meskipun bergelimangan dosa, rasa optimis mendapat ampunan Allah Swt.
tetap ada dalam hatinya. Namun perlu diingat bahwa sifat raja’ ini harus bersanding
dengan sifat khauf. Menurut Abu ‘Ali alRawdzabari, antara khauf dan raja’ ibarat dua
sayap burung. Jika kedua sayap tersebut sama, maka burung tersebut akan mampu
terbang secara sempurna. Namun jika kurang, maka terbangnya juga kurang sempurna.
Dan jika salah satu sayap itu hilang, maka burung itu tak akan bisa terbang. Apabila
kedua sayapnya hilang, maka tak butuh waktu lama burung itu akan mati.
Ketika seseorang memiliki sifat raja’ maka ia akan bersemangat untuk menggapai
rahmat Allah Swt. karena Dia memiliki sifat Maha Pengampun, Maha Pengasih dan
Penyayang. Meskipun bergelimangan dosa, rasa optimis mendapat ampunan Allah Swt.
tetap ada dalam hatinya. Namun perlu diingat bahwa sifat raja’ ini harus bersanding
dengan sifat khauf. Menurut Abu ‘Ali alRawdzabari, antara khauf dan raja’ ibarat dua
sayap burung. Jika kedua sayap tersebut sama, maka burung tersebut akan mampu
terbang secara sempurna. Namun jika kurang, maka terbangnya juga kurang sempurna.
Dan jika salah satu sayap itu hilang, maka burung itu tak akan bisa terbang. Apabila
kedua sayapnya hilang, maka tak butuh waktu lama burung itu akan mati.
Sifat khauf dapat mencegah seseorang berbuat dosa, sedangkan raja’ dapat
mendorong untuk taat kepada Allah Swt. Imam al-Ghazali pernah ditanya, manakah
yang lebih utama di antara sifat khauf dan raja’? Beliau balik bertanya, manakah yang
lebih nikmat, air ataukah roti? Bagi orang yang kehausan, air lebih tepat. Namun bagi
yang sedang lapar, roti lebih lebih tepat. Jika rasa dahaga dan lapar hadir bersamaan
dengan kadar yang sama, maka air dan roti perlu dikonsumsi bersama-sama. Apabila
hati seseorang ada penyakit merasa aman dari azab Allah Swt., maka obatnya adalah
khauf. Sedangkan apabila hati seseorang ada penyakit merasa putus asa, maka obatnya
adalah raja’.
Jika sifat khauf dan raja’ ini melekat pada diri seseorang maka ia tak akan mudah
menghakimi orang lain, sebab semua keputusan ada di tangan Allah Swt. Misalnya,
ketika melihat orang yang ahli maksiat, tidak boleh divonis pasti masuk neraka, bisa jadi
dalam hatinya ada harapan Allah Swt. akan mengampuninya, hingga Allah Swt.
memasukkannya ke surga. Sebaliknya, seseorang rajin ibadah bisa jadi masuk neraka,
karena ada sifat sombong dalam hatinya.
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SMA X GENAP 45

