Page 121 - 01_PAI_SMA_10_GANJIL_IKM
P. 121
pertumbuhan masjid, pesantren baik di dalam maupun di luar pulau Jawa.
Untuk mengetahui perkembangan Mazhab Syafi’i yang dianut mayoritas
oleh masyarakat Indonesia termasuk di Kesultanan Samudra Pasai, dapat
diketahui dari catatan Ibnu Batutah (penjelajah muslim dari Maroko yang
bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah al-Lawati at-Tanji
bin Batutah) yang pernah berkunjung ke Kesultanan Samudra Pasai pada tahun
745-746 H/1345 M. Pada catatan tersebut dijelaskan bahwa di Gujarat
berkembang Mazhab Syi’ah. Sedangkan kesultanan Samudra Pasai adalah
bermazhab Syafi’i.
Perbedaan mazhab antara Gujarat dan Samudra Pasai inilah yang dijadikan
alasan oleh Buya Hamka untuk menolak teori Gujarat. Jika benar bahwa agama
Islam berasal dari Gujarat seperti pendapat Snouck Hurgronje dan wilayah
pertama penerima ajaran Islam adalah Samudra Pasai maka dapat dipastikan
bahwa Samudra Pasai akan bermazhab Syi’ah. Menurut Ibnu Batutah,
kesultanan Samudra Pasai bermazhab Syafi’i, bukan mazhab Syi’ah. Oleh
karena itu, Buya Hamka berkeyakinan bahwa Islam dibawa langsung oleh
Saudagar dari Makkah, bukan dari Gujarat.
Sejarawan Belanda pada masa kolonial membagi periodisasi sejarah
Indonesia menjadi (1) Zaman Animisme dan Dinamisme, (2) Zaman Hinduisme
dan Buddhisme, (3) Zaman Islamisme, (4) Zaman Katolikisme dan
Protestanisme. Bertolak dari periodisasi ini, sejarah Islam dituliskan setelah
kerajaan Majapahit mengalami kemunduran pada abad ke-15 M, tidak
dijelaskan bahwa sejak abad ke-7 agama Islam sudah mulai didakwahkan di
Indonesia. Akibatnya, Islam dianggap barn masuk dan dikenal oleh masyarakat
Indonesia pada abad ke-15 M. Dibuktikan dengan berdirinya Kesultanan
Demak, dan kiprah Wali Songo dalam menyebarkan Islam pada abad ke-15.
Padahal abad ke-15 M termasuk periode perkembangan Islam di Indonesia,
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SMA X GANJIL 117

