Page 36 - 07_IPS_SMP_7_GENAP
P. 36
Pada tahun 1599 orang Portugis kembali ke Maluku dengan armada besar.
Pembalasan dendam Portugis kepada orang Maluku membuat mereka benci terhadap
orang Portugis. Setelah Belanda datang pada 1605 M, mereka disambut baik dan
bekerja sama dengan Ternate, Tidore dan Halmahera serta Ambon.
Pada 1607 Belanda telah membuat perjanjian dengan Ternate yang secara
formal memegang kekuasaan di Seram Barat. Belanda yang diberi kesempatan untuk
monopoli memberikan sikap yang berkebalikan dengan apa yang diperbuat. Mereka
melakukan pembantaian di Banda dan membunuh penduduk yang menyalahi aturan
Belanda. Belanda menancapkan kekuasaannya melalui kerjasama-kerjasama yang
merugikan penduduk lokal. Mereka memerintahkan untuk memusnahkan dan tidak
menanam rempah-rempah di Maluku kecuali di Maluku Selatan.
Lembar Aktivitas 14 Aktivitas Individu
• Bagaimana dampak dari monopoli yang dilakukan oleh Belanda di Maluku?
8. Banjarmasin: Perisai Penjajahan di Kalimantan
Pada tahun 1636 M Kerajaan Banjarmasin telah berpengaruh di Landak,
Sambas, Sukadana, Kutawaringin Mendawai, Pulau Laut, dan seluruh pantai timur
termasuk Kutai Pasir dan Berau serta daerah lainnya di Kalimantan. Perdagangan lada
menjadi ramai di Banjarmasin dan menarik Inggris untuk berpindah dari Banten ke
Banjarmasin. Pada tahun 1663 M timbul perebutan takhta dan Pangeran Dipati Anom
dengan dukungan keluarga Biaju berhasil menggeser Penembahan Ratu. Perubahan
yang ada di istana diselesaikan dengan suatu kompromi, Panembahan Ratu
berkedudukan di Martapura sedangkan raja yang baru berkedudukan di Surinata,
Banjarmasin.
Pada tahun 1670 pecah perang perebutan tahta. Raja Surianata dituntut untuk
turun takhta oleh Suriadilaga (seorang pemuka yang mendapat dukungan besar
Melayu). Pada akhirnya Raja Surianata tersisihkan. Pada awal abad ke-18 M
kedudukan Banjarmasin tetap kuat tidak terpengaruh oleh pengaruh asing. Pelabuhan
Banjarmasin bebas untuk perdagangan asing seperti Inggris, Tiongkok, Perancis dan
Portugis.
614 IPS SMP VII GENAP

