Page 34 - 07_IPS_SMP_7_GENAP
P. 34

6.  Mataram: Pewaris Supremasi Nusantara dari Jawa Bagian Selatan
                         Sutawijaya  yang  bergelar  Panembahan  Senapati  mengangkat  dirinya  sendiri
                  menjadi  Sultan  Mataram.  Beliau  menunjukan  kekuatan  Mataram  dengan  menyerang

                  Surabaya pada tahun 1586. Sebagian wilayah di Pulau Jawa bagian tengah dan timur
                  berhasil ditaklukkan oleh Mataram. Berikutnya beliau memindahkan perhatian ke Pulau
                  Jawa bagian barat. Pada tahun 1595 M Cirebon dan Galuh dapat dikuasai.























                    Gambar 3.32Masjid Gedhe Mataram, Kotagede. Masjid tertua di Yogyakarta ini
                                   merupakan peninggalan dari Kerajaan Mataram.

                         Penembahan  Senapati  wafat  pada  tahun  1601  dan  dimakamkan  di  Kotagede.
                  Penggantinya adalah Mas Jolang atau Panembahan Seda ing Krapyak. Mas Jolang sibuk

                  meredam  pemberontakan-pemberontakan.  Demak  dan  Ponorogo  memberontak  tetapi
                  segera  dapat  diatasi.  Mas  Jolang  menduduki  Mojokerto,  Gresik,  dan  membakar  desa
                  sekitar Surabaya. Mas Jolang wafat pada tahun 1613 dan diganti oleh Adipati Martapura.

                         Adipati Martapura selalu sakit-sakitan dan tidak mampu menjalankan
                  pemerintahan. Beliau diganti oleh saudaranya Raden Rangsang yang ternyata adalah
                  seseorang yang tegas dan kuat. Di bawah pemerintahannya (1613-1645) sosok yang

                  dikenal dengan sebutan Sultan Agung ini, Mataram mengalami kejayaan. Pada masa
                  Sultan Agung, Mataram meneruskan ekspansi sampai ke Banten tetapi mendapatkan
                  hambatan  di  Batavia  yang  dikuasai  oleh  Belanda.  Pada  tahun  1628,  Sultan  Agung

                  melancarkan serangan terhadap Batavia. Pengganti Sultan Agung, yaitu Amangkurat I
                  hingga  Pakubuwono  II,  tidak  begitu  kuat  dan  banyak  merugikan  rakyat  dengan

                  perjanjian antara Mataram dan Belanda.
                         Mataram  semakin  terdesak  dengan  perjanjian  yang  terus  dilakukan  dengan
                  Belanda.  Banyak  ketidakpuasan  muncul  di  dalam  keluarga  raja  dan  banyak  terjadi

                  suksesi di antara mereka. Akhirnya, melalui perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755
                  Mataram  pecah  menjadi  dua  kerajaan  yaitu  Kasultanan  Yogyakarta  dan  Kasunanan


                  612                IPS SMP VII GENAP
   29   30   31   32   33   34   35   36   37   38   39