Page 37 - 01_PAI_SMA_10 GENAP
P. 37

Menekuni Al-Qur`an sebagai wujud Cinta Kepada


                                                    Allah Swt.


                      K.H. M. Munawwir (Krapyak, Yogyakarta) adalah putra dari K.H. Abdullah Rosyad
                  bin  K.H.  Hasan  Basri.  Ilmu  Al-Qur`an  diperoleh  dari  ayahnya  sendiri,  kemudian

                  mendalaminya  di  Makkah  dan  Madinah  melalui  Syaikh  Abdullah  Sanqara,  Syaikh
                  Ibrahim Huzaimi, Syaikh Yusuf Hajar, dan beberapa syaikh lainnya. Selama 21 tahun
                  belajar di Makkah dan Madinah, beliau kembali ke Kauman, Yogyakarta pada tahun

                  1909 M. Selain ahli qira’at sab’ah (tujuh bacaan Al-Qur`an), beliau juga mendalami ilmu
                  lain  melalui  K.H.  Abdullah  (Kanggotan,  Bantul,  Yogyakarta),  K.H.  Kholil  (Bangkalan,
                  Madura), dan K.H. Shalih (Darat, Semarang). Dikisahkan saat baru berusia 10 tahun,

                  beliau belajar kepada K.H. Cholil di Bangkalan, Madura. Suatu ketika, saat akan shalat
                  berjamaah,  K.H.  Cholil  tidak  berkenan  menjadi  imam  shalat,  sambil  berkata:
                  “Seharusnya  yang  berhak  menjadi  imam  adalah  anak  ini  (sambil  menunjuk  K.H.  M.

                  Munawwir), meskipun masih usia belia, tetapi ahli qiraat.”
                      Sebagai wujud cinta kepada Allah Swt., beliau menekuni AlQur`an dengan usaha

                  yang amat gigih, yakni sekali khatam dalam 7 hari 7 malam selama 3 tahun, kemudian
                  sekali khatam dalam 3 hari 3 malam selama 3 tahun, kemudian sekali khatam dalam
                  sehari semalam selama 3 tahun, dan membaca Al-Qur`an selama 40 hari berturut-turut.

                      Beliau selalu menunaikan shalat fardu pada awal waktu diiringi dengan shalat sunah
                  rawatib.  Secara  rutin  setiap  setelah  ashar  dan  subuh  selalu  mewiridkan  Al-Qur`an.
                  Setiap satu pekan sekali beliau mengkhatamkan Al-Qur`an, yakni pada hari Kamis sore.

                  Hal ini rutin beliau lakukan sejak usia 15 tahun.
                      Di pondok pesantren Krapyak Yogyakarta K.H. M. Munawwir fokus mengajarkan Al-
                  Qur`an  kepada  para  santri.  Mereka  sangat  menghormati  beliau  karena  memiliki

                  kewibawaan  akhlak  dan  ilmu  yang  sangat  tinggi.  Di  antara  murid-murid  beliau  yang
                  meneruskan perjuangan pengajaran Al-Qur`an adalah K.H. Arwani Amin (Kudus, Jawa

                  Tengah), K.H. Badawi (Kendal, Jawa Tengah), Kyai Zuhdi (Nganjuk, Jawa Timur), K.H.
                  Muntaha (Kalibeber, Wonosobo, Jawa Tengah), K.H. Murtadla (Buntet, Cirebon, Jawa
                  Barat), K.H. Hasbullah (Wonokromo, Yogyakarta).

                      Beliau wafat pada hari Jum’at tanggal 11 Jumadil Akhir tahun 1942 M, dimakamkan
                  di  pemakaman  Dongkelan,  sekitar  2  km  dari  kompleks  pesantren  Krapyak.  Karena

                  banyaknya  orang  yang  bertakziyah,  bertindak  sebagai  imam  shalat  jenazah  secara
                  bergiliran adalah K.H. Manshur (Popongan, Solo, Jawa Tengah), K.H. R. Asnawi (Kudus,


                 34              PENDIDIKANAGAMA ISLAM SMA X GENAP
   32   33   34   35   36   37   38   39   40   41   42