Page 78 - 03_BIN_SD_4_GENAP
P. 78
Kidul hanya meringis. Tangan kanannya memegang rempeyek. Tangan kirinya
menggaruk tangan kanan. Habis itu rempeyek pindah ke tangan kiri, tangan kanan
menggaruk tangan kiri. Kedua tangannya terlihat memerah.
“Aduh, banyak nyamuk,” seru Kidul.
“Mana ada nyamuk?” kata Pahmi. “Buktinya aku dan Sagoy baik-
baik saja.”
“Makanya, rajin-rajinlah kau mandi,” kata Sagoy. “Kapan kau
terakhir mandi?”
“Ah, bosan, gerakannya begitu-begitu saja,” sahut Kidul sambil mengingat-
ingat kapan dia terakhir mandi. Dua hari lalu? Tiga hari lalu? Menurut Kidul kalau
sedang libur tidak perlu mandi.
Namun, gatal-gatal di tubuh Kidul terus bertambah. Sekarang lehernya juga
terasa gatal. Tangannya kini malah lebih sering menggaruk daripada memegang
rempeyek. Karena Sagoy dan Pahmi makin sering meledeknya, Kidul memutuskan untuk
pulang saja. Ibu Pahmi membungkuskan rempeyek untuk dibawanya pulang. Kidul
tersenyum lebar menyambut bungkusan itu.
Begitu tiba di rumah, Kidul cepat-cepat masuk kamar supaya Kak Asih tidak
melihatnya. Apa daya, gatalnya tidak kunjung hilang. Makin digaruk makin gatal. Tidak
tahan, Kidul mengadu kepada Ibu.
Ibu dan Kak Asih terkejut melihat tangan Kidul yang lecet-lecet. Sebelum Kak
Asih bersuara, Ibu sudah berkata tegas, “Kita harus ke dokter!”
Dokter Tuti yang memeriksa Kidul menyapa dengan ramah, “Ini sepertinya
alergi. Tadi makan siangnya pakai apa? Telur? Udang?”
Tiba-tiba Kidul teringat makhluk kecil-kecil di atas rempeyek. Ah, itulah
penyebabnya.
170 BAHASA INDONESIA SD IV GANJIL

